Hilangnya Sense Of Crisis di Negeri Seribu Pulau
>> Rabu, 17 Oktober 2007
Oleh: Muhammad Nurdin Sarim
Kemiskina, pengangguran, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran, tawuran para pelajar, maraknya aliran sesat dan korupsi rasanya sudah sangat bersahabat dengan negeri seribu pulau ini, mulai dari dahulu sampai sekarang. Milyaran bahkan triliunan sudah dihabiskan untuk menanggulangi permasalahan tersebut, namun hal itu seakan-akan tak pernah sirna, siapakah yang perlu disalahkan, Pemerintah rakyat ataukah Tuhan?
Sejarah telah mencatat dari segi kemiskinan bahwa: Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada bulan Maret 2006 sebesar 39,05 juta (17,75 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Februari 2005 yang berjumlah 35,10 juta (15,97 persen), ini berarti jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 3,95 juta.
Inilah sedikit gambaran tentang kemiskinan yang ada di Idonesia pada tahun 2005-2006, dan bagaimanakah dengan tahun ini?(2007), rasanya tak terlalu jauh berbeda.
Ditengah kemiskinan yang luar biasa ini, ada hal yang sangat aneh (fantastic) yang dilakukan oleh
Bisa ditebak, dengan pakaian ketat yang mempertontonkan lekuk-lekuk tubuhnya, Inul tampil heboh di atas panggung. Melihat pentas tersebut bisa menimbulkan persepsi yang salah bagi sebagian orang, seolah kondisi Kabupaten TTU sudah makmur sentosa, sehingga bisa mendatangkan artis sekaliber Inul. Padahal, yang terjadi di lapangan saat ini sungguh membuat miris.
Lihat saja, kondisi ribuan balita penderita gizi buruk di wilayah TTU hingga kini masih memprihatinkan. Seperti di Desa Oenenu, Kecamatan Miomafo Timur, mayoritas keluarga miskin merawat buah hatinya di rumah karena tak punya biaya untuk membawa sang anak ke rumah sakit. Penderitaan itu masih ditambah dengan mimpi buruk kelaparan akibat gagal panen serta ketiadaan bantuan dari pemerintah setempat.
Belum jelas, kenapa anggaran untuk mendatangkan Inul tidak dialihkan saja bagi anggaran tanggap darurat gizi buruk. Sebab, menurut Kepala Dinas Kesehatan TTU, Mikhael Suri, dengan jumlah penderita gizi buruk lebih dari 1.500 anak, dibutuhkan dana sekitar Rp 4,5 miliar [baca: Bupati Bantah Status KLB Gizi Buruk]. Dan lagi, kedatangan Inul ternyata sama sekali tidak membuat penderitaan korban gizi buruk menjadi berkurang.
Selain dari pada itu manufer politik dan korupsi menjalar dimana-mana, tak heran jika milyaran anggaran raib entah kemana, banyak pihak yang merasa sudah menyalurkannya kepada yang berhak, namun fakta dilapangan sangat jauh berbeda dengan apa yang mereka sampaikan. Mungkin mereka buta atau pura-pura buta betapa banyaknya penderitaan/kepedihan rakyai bangsa ini.
Di bidang politik, kita dapat melihat, Safari Wakil Presiden yusuf Kalla ke 9 propinsi ternyata hanya taktik untuk medapatkan dukungan dari semua pihak, karena ia ber asumsi untuk maju pada pemilu 2009 mendatang, safari itu adalah politik yang dibungkus dengan Silaturrahim, dan seorang yang dianggap bersih dari korupsi ternyata malah jadi pecundang, tak salah lagi komisi Yudisial benar-benar sedang dilanda kesialan, lantara salah satu anggatanya dinyatakan bersih dari korupsi ternyata ditangkap, penagkapan Irawady Joenoes, anggota Komisi Yudisial (KY), bak halilintar di siang terik. Ironis. Sebab, sebagai bagian dari lembaga itu, Irawady diharapkan mampu membikin lembaga peradilan menjadi bersih namun hal itu bak bualan di siang bolong.
Yang paling aneh lagi, ketika Rohmin Dahuri menjabat sebagai Mentri Kelautan dan Perikanan, ia telah banyak menelan uang rakyat dan hal itu ternyata tidak hanya dia yang memakannya, ternyata semua cawapres dan capres pada pemilu 2004 yang lalu juga mendapat kucuran dana ini, namun setelah semuanya jelas, Amin Rais dan Gus sholah telah memaparkan kesaksiannya dan mereka telah mengakui tindakan sembrono mereka (menerima uang dari Rogmin Dahuri) kini beritanya hilang ditelan bumi, entah lantaran penguasa yang berbuat serong, hukum menjadi lemah tak berdaya. Inilah yang ditakutkan Rasulullah 14 abad silam dalam sebuah haditnya.
Yang menarik lagi, ketika pelantikan Gubernur DKI Jakarta beberapa minggu yang lalu, hal tersebut menghabiskan dana sekitar 2 milyar sangat luar biasa, untuk hal apakah uang sebanyak itu dihambur-hamburkan? Apakah pelantikan seorang wali
Rasanya Negara kita memang sedang di hinggapi berbagai macam penyakit kronis, mulai dari dalam negri sampai ke luar negri, lihatlah kejadiain di Malaysa, hubungan kedua negara memang selalu diwarnai pasang surut. Dimulai dari konfrontasi keduanya di masa Bung Karno, pencaplokan Pulau Sipadan-Ligitan, hingga sengketa kepulauaan Ambalat. Mulai dari penyiksaan pembantu rumah tangga, hingga penjiplakan lagu Rasa Sayange.
Anehnya, meski selalu diwarnai pertikaian, baik politik maupun perselisihan antarwarga negara, tapi pemimpin kedua negara selalu mengelu-elukan bahwa antara
Dan pembaikotan maskapei penerbangan
Akankah
0 Komentar:
Posting Komentar